ANGKATAN PUJANGGA BARU
Angkatan Pujangga Baru: Revolusi Sastra Indonesia
Pengantar: Memahami Perkuliahan tentang Angkatan Pujangga Baru
Pantai Klayar, kebanggaan Pacitan, memamerkan panorama indah dengan laut birunya. Siapkah Anda mengikuti perkuliahan yang akan membahas tentang Angkatan Pujangga Baru di Indonesia?
Dalam dunia sastra Indonesia, Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai respons terhadap praktik sensor yang diberlakukan oleh Balai Pustaka. Kebijakan Balai Pustaka mengharuskan sebuah karya sastra diterbitkan jika memenuhi kriteria Mochtar Indeks, yakni tidak memiliki elemen politik, netral dalam agama, dan mengutamakan budi pekerti. Sayangnya, kebijakan ini kadang menghambat kebebasan penulis dalam menyampaikan ide atau gagasannya. Sensor tersebut biasanya dijalankan oleh Balai Pustaka, terutama pada karya sastra yang berbau nasionalisme dan semangat kebangsaan.
Awal mula Angkatan Pujangga Baru dapat ditelusuri pada tahun 1920-an, yang dikenal juga sebagai periode Prabu Jangka Baru. Mereka menghasilkan karya-karya yang memuat semangat nasionalisme. Namun, semangat ini sering bertentangan dengan kebijakan Balai Pustaka yang membatasi penulis dalam mencurahkan gagasan mereka. Bahkan, Balai Pustaka secara kasar menyebut penulis yang melanggar panduan tersebut sebagai “pengarang liar”. Upaya memasukkan semangat nasionalisme ke dalam karya sastra dianggap sebagai tindakan melawan arus dalam sastra di luar Balai Pustaka.
Semangat Angkatan Pujangga Baru: Bersatu, Bebas, dan Maju
Semangat yang mendorong lahirnya Angkatan Pujangga Baru memiliki beberapa aspek penting. Pertama, semangat untuk menjaga persatuan dan kesatuan nasional. Kedua, keinginan untuk membebaskan diri dari pembatasan dalam mengungkapkan perasaan, gagasan, dan kehendak. Ketiga, tujuan untuk memajukan bahasa, sastra, dan budaya Indonesia.
Dua pengertian penting terkait dengan Angkatan Pujangga Baru. Pertama, sebagai nama majalah sastra “Pujangga Baru”. Kedua, sebagai gelombang sastra “Pujangga Baru” dalam literatur Indonesia. Majalah “Pujangga Baru” memiliki dua periode, sebelum perang (Juli 1933 hingga Maret 1942) dan sesudah perang (Maret 1948 hingga Maret 1953). Majalah ini, sebelum perang, memiliki semangat yang seragam, mencerminkan cita-cita bersama. Namun, setelah perang, majalah ini memiliki karakter yang beragam, menggambarkan suara berbagai angkatan sastra.
Cita-cita Angkatan Pujangga Baru dan Subjudul Majalah
Salah satu cita-cita Angkatan Pujangga Baru adalah menciptakan kebudayaan baru, kebudayaan Indonesia. Majalah “Pujangga Baru,” terutama sebelum perang, menjadi wadah ekspresi semangat angkatan Pujangga Baru. Cita-cita, pandangan, dan pemikiran angkatan ini tercermin dalam majalah tersebut. Perkembangan subtitle majalah ini menggambarkan fokus perhatian dan tujuan angkatan ini.
Pada tahun pertama, majalah berfokus pada kesusasteraan, bahasa, dan kebudayaan umum. Tahun kedua, majalah mencakup seni dan kebudayaan. Pada tahun ketiga, majalah menyoroti semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan, dan isu-isu sosial. Pada tahun-tahun berikutnya, majalah berperan sebagai pemandu semangat baru untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia. Perubahan subtitle ini mencerminkan ekspansi perhatian dan semangat majalah sebagai suara Angkatan Pujangga Baru.
Tujuan dan Dampak Majalah “Pujangga Baru”
Majalah “Pujangga Baru” memiliki beberapa tujuan penting. Pertama, untuk menyatukan penulis yang sebelumnya bersebaran. Kedua, sebagai medium untuk menyuarakan perasaan, pandangan, dan pemikiran sastrawan. Ketiga, memberikan penghargaan dan apresiasi terhadap kesusastraan. Keempat, memajukan kebudayaan Indonesia melalui semangat dinamis dalam karya-karya baru.
Dalam perjalanan waktu, Angkatan Pujangga Baru membawa revolusi dalam dunia sastra Indonesia. Mereka memberikan ruang untuk penulis mengungkapkan gagasan dan emosi mereka dengan bebas, serta memperkaya kebudayaan Indonesia melalui karya-karya berkualitas.