SASTRA PERIODE ZAMAN JEPANG

Sastra Periode Zaman Jepang: Pengaruh Propaganda dan Perubahan Pola Kebudayaan

Latar Belakang Periode Zaman Jepang di Indonesia

Selamat datang! Pergilah ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, sebuah kota di ujung timur Pulau Jawa. Kali ini kita akan membahas Sastra periode zaman Jepang yang berperan penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Zaman Jepang menjadi batas antara angkatan Pujangga baru dan angkatan 45. Tontonlah video ini secara lengkap agar Anda memahami perkembangan Sastra di masa Jepang.

Propaganda dan Kehadiran Zaman Jepang di Indonesia

Zaman Jepang dimulai pada tahun 1942 saat Jepang menginvasi dan berkuasa di Indonesia. Jepang mendirikan kantor pusat kebudayaan yang disebut “Gaming Vulgar Digosok” untuk mengumpulkan pengarang dan seniman. Tujuan tersembunyi dari kantor ini adalah untuk menciptakan lagu, lukisan, slogan, sajak, sandiwara, dan film yang berfungsi sebagai alat propaganda Jepang untuk mempengaruhi pemirsa. Sebelum kita lanjutkan, mari pahami apa itu propaganda.

Propaganda adalah komunikasi yang bertujuan menyebarkan informasi yang diinginkan, seringkali bersifat manipulatif dan berdampak negatif pada para pemirsa, dan dilakukan dengan cara yang mempengaruhi. Oleh karena itu, kantor pusat kebudayaan Jepang menjadi tempat untuk mengumpulkan sastrawan dan memantau propaganda Jepang, serta sebagai badan sensor penerbitan.

Dari kantor ini, terciptalah cerpen, drama, dan puisi yang sesuai dengan pesanan pemerintah. Oleh karena itu, unsur propaganda tak dapat dihindari dalam karya sastra mereka. Beberapa usaha dan kegiatan yang dipropagandakan adalah menanam biji jarak, meningkatkan produksi, bekerja keras di pabrik, ikut menjadi bagian dari barisan Jibakutai atau barisan berani mati, serta membantu Perang Asia Timur Raya yang dihadapi Jepang.

Perubahan Politik dengan Kedatangan Zaman Jepang

Penyerahan kekuasaan dari pemerintah Hindia Belanda kepada Jepang terjadi pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati. Dengan perjanjian ini, Jepang secara resmi menguasai wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda. Tak lama setelah itu, Jepang menerapkan pengawasan ketat dan mulai melancarkan propaganda dengan menggambarkan Jepang sebagai keturunan Dewa yang ditakdirkan menjadi bangsa unggul. Sementara itu, Inggris dan Amerika bersama sekutunya dianggap sebagai musuh.

Perang Pasifik pada masa itu memiliki tujuan suci, yaitu untuk membangun Asia Timur Raya. Pada awal pendudukan, Jepang menekankan tema-tema propaganda untuk mencapai tujuan Perang Asia Timur. Dalam posisi ini, Jepang ingin bangsa Indonesia merasa bahwa mereka peduli terhadap nasib Indonesia dan menumbuhkan kesadaran akan persatuan sebagai bangsa Asia.

Tema propaganda tahun 1943 tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, hanya ditambahkan dengan promosi peningkatan produksi pangan. Sementara pada tahun 1944, tema propaganda mencakup penyerapan administrasi militer untuk meningkatkan kepercayaan penduduk terhadap Jepang, konferensi Asia Timur, dan romusha. Selain mengangkat tema militer, Jepang juga mendorong penduduk untuk berhemat dan menabung, serta menyelenggarakan hiburan agar mendapatkan simpati dari bangsa Indonesia.

Departemen Propaganda dan Pusat Kebudayaan

Untuk mengimplementasikan propaganda ini, pemerintah Jepang membentuk Departemen Propaganda, yang disebut “Sendenbu,” pada bulan Agustus 1942. Departemen ini bertugas khusus menargetkan penduduk sipil. Selain itu, pemerintah pendudukan Jepang juga mendirikan “Kemin Bunka Shidoso,” sebuah pusat kebudayaan pada tanggal 1 April 1943. Lembaga ini bertujuan untuk menghilangkan pengaruh Kebudayaan Barat dan seni yang dianggap tidak sesuai dengan nilai timur.

Kehadiran zaman Jepang di Indonesia membawa pengaruh besar dalam perkembangan sastra pada periode tersebut. Propaganda dan perubahan politik menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam karya-karya sastra yang dihasilkan selama masa ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel