Sastra Melayu-Tionghoa

Sastra Melayu-Tionghoa: Kekayaan Tanpa Pengakuan dalam Khazanah Sastra Indonesia

Pemahaman Sastra Melayu-Tionghoa

Selamat malam, para pembaca yang budiman! Kali ini, kita akan menjelajahi dunia sastra yang unik dan menarik, yakni sastra Melayu-Tionghoa. Meskipun keberadaannya belum sepenuhnya diakui dalam khazanah sastra Indonesia, sastra ini memiliki daya tarik dan kekayaan kultural yang tak bisa diabaikan. Mari kita mendalami latar belakang dan esensi sastra Melayu-Tionghoa dalam konteks sastra Indonesia.

Melacak Asal-Usul Sastra Melayu-Tionghoa

Munculnya Sastra Peranakan Tionghoa

Perjalanan sastra Melayu-Tionghoa dimulai dari karya-karya orang Tionghoa peranakan yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Rentang waktu ini dimulai hingga awal tahun 1942, ketika pemerintahan Belanda jatuh di Indonesia. Sastra Melayu-Tionghoa atau peranakan Cina di Indonesia, menurut Sumardjo, sebagian besar berasal dari kelompok Hokkian. Kelompok ini telah menetap di Indonesia selama beberapa lama, yang memungkinkan mereka beradaptasi dengan budaya lokal.

Kelahiran Sastra Peranakan Tionghoa di Jawa

Di Jawa, khususnya di kalangan orang Hokkian, sastra Melayu-Tionghoa mulai berkembang. Fenomena ini bisa dijelaskan dengan beberapa faktor. Pertama, kelompok orang Hokkian telah lama tinggal di Indonesia, kedua, banyak orang Tionghoa di Jawa yang tinggal di kota-kota besar, dan ketiga, mayoritas orang Tionghoa di Jawa adalah pedagang yang memiliki akses terhadap pendidikan. Meskipun mereka telah lama menetap di Indonesia sejak abad ke-16, sastra baru mulai muncul pada abad ke-19. Sastra peranakan ini tumbuh bersamaan dengan sastra golongan Indo-Belanda Jawa dan Sunda, yang dipicu oleh kebutuhan kelompok peranakan Cina, terutama para pedagang dan pengusaha. Kehadiran mereka dalam dunia bisnis memberikan akses pendidikan dan kemudahan akses terhadap bacaan dalam bahasa Melayu rendah.

Bahasa Sehari-hari yang Menghidupkan Sastra

Mengenal Bahasa Melayu Rendah

Apa yang dimaksud dengan bahasa Melayu rendah? Ini merujuk pada bahasa Melayu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau bahasa pasar, yang berbeda dari bahasa Melayu tinggi yang lebih formal. Kesusastraan peranakan Cina di Indonesia menggunakan bahasa Melayu rendah yang berkembang dari tahun 1870 hingga 1966. Bahasa ini, juga dikenal sebagai Melayu pasar, sering dianggap kurang bernilai karena berakar dari percakapan sehari-hari, dengan kosakata terbatas pada kebutuhan sehari-hari. Namun, dengan adanya anak-anak Tionghoa yang menyelesaikan pendidikan menengah di Belanda atau di luar negeri seperti Universitas Hong Kong, perkembangan kosakata dalam bahasa Melayu ini semakin luas. Inilah cikal bakal terbentuknya bahasa Indonesia Tionghoa.

Karya Sastra Melayu-Tionghoa yang Terabaikan

Ketidakdiakuan terhadap Karya Sastra

Namun, sastra Melayu-Tionghoa tetap memiliki daya tarik dan nilai yang tak bisa diremehkan. Walaupun demikian, keberadaan karya sastra ini masih belum diakui dalam Khazanah sastra Indonesia. Alasan di balik ini adalah adanya perbedaan bahasa dan budaya yang belum terintegrasikan sepenuhnya. Para peranakan Cina ini memiliki akar budaya mereka sendiri, namun belum mampu menggabungkan budaya dan bahasa lokal dengan baik. Meskipun mereka telah lama tinggal di Indonesia, tetap saja ada jarak budaya yang perlu diatasi.

Pentingnya Pengakuan atas Karya Sastra Melayu-Tionghoa

Menghargai Keanekaragaman Sastra

Meskipun karya sastra Melayu-Tionghoa belum mendapatkan pengakuan yang layak, ini bukan berarti bahwa sastra tersebut tak memiliki makna atau nilai. Sastra Melayu-Tionghoa memberikan warna unik dan keanekaragaman dalam khazanah sastra Indonesia. Pengakuan dan apresiasi terhadap karya sastra ini akan memperkaya dan melengkapi ragam sastra yang dimiliki Indonesia. Mari bersama-sama mengakui dan menghargai sumbangsih sastra Melayu-Tionghoa dalam membangun kekayaan sastra tanah air.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel