SEMAPUT DALAM DIRI #1

“Tomoko chan!” Yazid berteriak memanggil anak pertukaran pelajar dari Jepang itu sambil melangkah cepat untuk segera menghampirinya.
Tomoko menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. “Yazid…” gumamnya.
“Ashita, anata wa doko he ikimasu ka?” Yazid bertanya dengan Bahasa Jepang meski masih sedikit kaku.
“saya nggak ke mana-mana kok, ada apa?”
“bisa kita kumpul di ruang rapat sepulangnya sekolah?”
“tentang?” Tanya Tomoko datar.
“banyak hal yang perlu kita musyawarahkan, tak kan cukup kalau dibicarakan di sini.” Yazid menimpal.
“oke, aku akan datang.” Lalu ia berlalu dengan langkah cepat tanpa menunggu jawaban dari Yazid.
Tomoko Hanada, anak Jepang pertukaran pelajar dari International Hokaido Senior High School yang menjadi utusan sekolahnya ke Indonesia untuk di tempatkan di SMK Hayati di jurusan bioteknologi IA. Perawakan tinggi, bermata sipit seperti orang Jepang pada umumnya, cerdas, energik, selalu banyak hal yang dilontarkannya yang bisa dibilang “gila” tapi cukup “genius”, sedkit tomboy, perempuan yang telah mempunyai sabuk coklat di karate ini terkesan sedikit angkuh meski sebenarnya tidak.
Yazid masih berdiri saat Tomoko hampir menghilang dari pandangannya. Setelah menghilang ia baru tersadar bahwa Tomoko telah pergi. Iapun membalik badan dan pergi kearah yang berlawanan.
Lorong sekolah cukup panjang untuk dilalui. Yazid menelusuri panjangnya deretan siswa-siswi yang nongkrong di kursi teras sekolah. Sebagian besar dari mereka mengobrol tak karuan, hanya sedikit yang berminat untuk mengisinya dengan belajar meski hanya membaca ringan.
***
Ruang Lab. Kimia begitu berantakan saat Hikma, si gadis jelita, sopan, genius, periang namun sedikit “misterius” ini masuk ke dalam.
“apa yang terjadi?” entah kepada siapa ia bertanya, karena saat itu ia memang sendirian.
“astaghfirullah! Kok bisa gini sih, berantakan banget, siapa yang ngelakuin ini semua?” ia meracau sambil segera membereskan labu erlenmayer, pipa angsa, dan beberapa alat yang lain berserakan di lantai.
“apa ini?” Hikma berhenti memungut barang-barang yang jatuh di atas lantai saat ia menemukan sesuatu yang cukup aneh. Bulat, pepat, berwarna putih perak. Ukuran benda itu tidak lebih besar dari sebuah kelereng. Iapun segera mencari pinset dan kemudian memungut dan memasukkannya ke dalam tabung khusus. Setelah memasukkannya ke dalam brankas, ia pun melanjutkan pekerjaannya membereskan barang-barang yang masih berserakan dan membersihkan sisa preparat yang tercecer di lantai.
***
Banyak anak yang berkerubun di lapangan seperti semut mengerubuti gula. “ada apa?” seru Yazid seraya berlari menuju kerumunan.
“Erna kejang-kejang terus, gimana nih?” seru Ali nyerocos tak berhenti karena khawatir akan keadaaan akhwat yang diam-diam dia sukai.
“bawa dia ke ruang UKS! ikut aku yang tahu kronologisnya termasuk orang yang mengetahui banyak hal tentang dia!” perintah Yazid.
Empat orang ternyata tengah membawa tandu menuju TKP. Mereka pun mengangkut anak itu ke ruang periksa. Yazid mengikuti tandu, disusul teman dekat anak itu, oryn, anak kimia analisis, ketua Lab Bidang Radiologi dan Ali tentunya, ikhwan jurusan kimia anatomi yang menyukai akhwat manis yang kini kejang-kejang itu.
Sesampainya di ruang periksa, Yazid langsung menyambar suntikan, botol diazepam dan Phenobarbital. Dia suntikkan diazepam sesuai dosis menurut prosedur dasar. Belum juga jarum dia cabut, kejang-kejangnya telah berhenti.
“Alhamdulillah.” Yazid menghembuskan nafas lega, begitu juga yang lainnya. “biarkan dia istirahat.” Lanjutnya.
“gimana keadaannya?” Ali langsung menyerang Yazid dengan pertanyaan saat ia keluar dari ruang periksa.
“Alhamdulillah, dia sekarang sudah tenang.” Jawabnya.
“menurut akhi, apa yang dialami oleh Erna?” timpal Oryn.
Deg. Akhi? Ada perasaan aneh muncul dan hatinya sedikit tergelitik dengan sebutan yang ditujukan padanya itu. “Sejak kapan aku menjadi ikhwan? Rohis pun aku tak pernah berminat mengikuti.” Bisik Yazid dalam hati.
“kalo kita lihat dari kronologisnya, kemungkinan dia terkena konvulsivus.” Jawabnya datar mencoba menyembunyikan rasa geli dengan sebutan tadi.
“Zid, kamu dipanggil Bu Eka tuh.” Aldi.
“oh, iya. Makasih ya!” balas Yazid.
“bagaimana?”tanya bu Eka tanpa basa-basi kepada Yazid.
“Kemungkinan konvulsivus Bu.” Jawabnya.
“sudah diberi diazepam?” bu Eka.
“sudah, ditambah sedikit phenobarbital.”
Bapak kepala sekolah dan bagian kesiswaan datang menghampiri Yazid dan Bu Eka.
“bagaimana?” tanya KepSek.
Bu Eka hanya melirik Yazid pertanda Yazidlah yang harus menjawab.
“sudah ditangani Pak, sekarang sedang istirahat.”
“bagus kalau begitu. Setidaknya kamu telah berjasa dalam hal ini.” Katanya dingin.
“terima kasih Pak.” Jawab Yazid.
“kalau begitu, saya akan rapatkan seluruh guru kecuali beberapa guru yang akan saya perbantukan untuk mengatasi ini semua.” Beliaupun meninggalkan Yazid dan Bu Eka.
“oke kalau begitu, tinggal perawatan terhadapnya hingga ambulance bantuan datang.” Kata Bu Eka setelah kepsek dan guru BP itu berlalu. “kamu boleh pergi”. Lanjutnya.
“saya permisi Bu.” Yazid pun pergi ke kelasnya.
***
bersambung...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel