SEMAPUT DALAM DIRI #2
Friday, May 25, 2018
“BLAAAAARRRR!!!!” sesuatu meledak di Laboratorium Mikrobiologi IA.
“AAAAA!!!!” hikma berteriak histeris.
“Hikma”, pikir Ali. Refleks Ali berlari meninggalkan kelas diikuti oleh anak-anak yang juga mendengar jeritan Hikma.
“ada apa?!” Yazid datang lebih awal dan segera mendekati Hikma. Guru-guru pun mulai datang melihat apa yang terjadi.
Semua mata tertuju pada keadaan Hikma yang masih shok ketakutan. Seakan telah di-“plug in” sebelumnya, refleks baik guru ataupun murid-murid yang hadir saling bertanya dengan pertanyaan yang sama, “ada apa?!” dengan wajah terheran-heran.
“lihat”. Hikma buka mulut sambil menunjuk ke arah brankas yang telah hancur, ia sendiri terkena lempengan metal brankas yang meledak sehingga kakinya berdarah.
“apa yang terjadi?” Yazid meminta penjelasan.
Hikma pun menuturkan rangkaian kejadiannya, “tadi pas aku datang ke sini, ruang ini dah ancur berantakan, terus aku beresin, pas lagi beres-beres aku nemuin benda kaya metal gitu warna perak segede kelereng, trus aku masukin ke tabung, trus disimpen di brankas, gak lama kemudian tuh brankas meledak.”
“lihat!” Ali berseru saat ia melihat kaki Hikam berdarah. “cepat obati sebelum menjadi infeksi!” lanjutnya.
“Tidak!” Tomoko menyeruak dari belakang kerumunan orang-orang yang hanya mematung dan berdiskusi di “belakang layar” yang hanya memanaskan suhu ruangan. “bawa dia ke ruang radiologi!” tegasnya meminta Yazid dan Ali yang berada paling dekat dengan Hikma untuk mengantarkannya ke ruang Radiologi.
“kita harus mengeluarkan metalnya terlebih dahulu.” Jawab Ali.
“metal tak perlu kita hiraukan, yang perlu kita waspadai adalah yang menyebabkan brankas itu meledak, aku takut kalo benda itu berada dalam tubuhnya.” Balas Tomoko.
“apa kamu mau tanggung jawab kalau seandainya dia mengalami infeksi berat hingga harus amputasi?!” Ali mulai panas.
“kamu pikir kami membiarkan bakteri keluar masuk ruangan steril ini?” sanggah Tomoko sebagai ketua Lab merasa tersinggung.
Tiba-tiba Oryn datang dengan membawa peralatan P3K dan alat-alat yang dibutuhkan. Tanpa basa-basi ia membuka sepatu dan kaos kaki Hikma. Kemudian untuk menghentikan pendarahan, ia membelitkan perban di betis sebelah atasnya.
“kompreskan es!” perintah Oryn kepada Ali. Ia pun mengerjakan apa yang dipinta Oryn. Sementara Oryn sibuk berusaha mengeluarkan metal dari kaki Hikma, beberapa guru dari berbagai cabang ilmu pengetahuan eksakta mengambil sampel untuk diteliti kemudian.
“uuuh...aduuuh....” keluh Hikma menahan rasa sakit.
“tahan sedikit ya...sedikit lagi kok.” Pinta Oryn.
Ibu Eka, seorang guru dan pembina PMR yang juga seorang dokter segera membantu Oryn.
“oke, sudah keluar, bawa dia ke ruang UKS untuk perawatan.” Kata Bu Eka sambil menunjuk kepada anak-anak PMR.
“Tidak Bu, lebih baik kita bawa dulu ke Lab Radiologi, Ibu sudah beri dia antibiotik?” tanya Tomoko.
“oke, kita bawa dia ke sana, aku sudah beri dia antibiotik.” Jawab Bu Eka.
“lebih cepat akan lebih mengurangi resiko.” Tomoko.
Tandu telah datang, Hikma dibawa ke ruang Radilogi.
***
Ruangan sangat tertata rapi dan bersih. Inilah tempat kerja Oryn dalam meneliti berbagai macam hal yang berhubungan dengan radioaktivitas dan berbagai laju gelombang radio yang dihasilkan berbagai sumber radiasi.
“Mana Oryn?” tanya Tomoko.
“dia dipanggil kepala sekolah”. Jawab Yazid.
“lantas siapa yang akan menjalankan alat ini?” Tomoko kesal.
“alat apa yang kamu butuhkan?” tanya Ali datar.
“RAD” jawabnya singkat.
“oke, aku coba, setidaknya aku pernah belajar dari Erna tentang ini.” Jawab Ali. “antar dia kesini!” perintah Ali sambil menyalakan Radio Activity Detector (RAD).
“terdeteksi!” seru Ali dengan girang. “apa itu?” ia mengerenyitkan dahinya saat melihat benda aneh menyala di kaki Hikma dengan nyala yang cukup kuat.
“Plutonium.” Kata Tomoko.
“plutonium?!” seperti yang dikomando, semua serempak terkejut.
“ya, itu adalah plutonium yang meledak tadi, mungkin tadi tidak terangkat, segera kita lakukan pengangkatan.” Jawabnya.
“Yazid, bantu aku mempersiapkan alat yang dibutuhkan!”perintah Bu Eka kepada Yazid.
“baik Bu.” Ia pun bergegas menuju ruang UKS untuk mengambil perlengkapan yang diperlukan dibantu 2 asisten terbaiknya. Yazid, memang dia seorang anggota PMR terbaik di Jawa Barat yang dapat memecahkan 20 pertanyaan masalah tulang dan menjawab 15 case analysis yang berhubungan dengan kelainan sistem koordinasi syaraf pusat dalam waktu kurang dari 2 jam dengan tingkat kesalahan 10% dari seluruh materi. Dan semester depan ia menjadi kandidat terkuat untuk mewakili Indonesia dalam lomba PMR Internasional di Edogawa, Jepang.
Yazid telah datang diikuti dua asistennya, dengan membawa beberapa alat medis.
“oke, kita mulai.” Kata Bu Eka.
Pembedahan pun dimulai.
***
Erna telah tertidur selama 3 jam lebih. Ia belum juga sadarkan diri. Ali telah berada di sisinya sejak setelah selesai pembedahan kaki Hikma 2 jam yang lalu.
“Rabb, aku yakin pada-Mu, ini bukanlah terakhir kali aku menemuinya, melihatnya, meski jika Engkau memanggilnya untuk kembali bersama-Mu sekarang.” Do’a Ali dalam hati.
***
bersambung...
“AAAAA!!!!” hikma berteriak histeris.
“Hikma”, pikir Ali. Refleks Ali berlari meninggalkan kelas diikuti oleh anak-anak yang juga mendengar jeritan Hikma.
“ada apa?!” Yazid datang lebih awal dan segera mendekati Hikma. Guru-guru pun mulai datang melihat apa yang terjadi.
Semua mata tertuju pada keadaan Hikma yang masih shok ketakutan. Seakan telah di-“plug in” sebelumnya, refleks baik guru ataupun murid-murid yang hadir saling bertanya dengan pertanyaan yang sama, “ada apa?!” dengan wajah terheran-heran.
“lihat”. Hikma buka mulut sambil menunjuk ke arah brankas yang telah hancur, ia sendiri terkena lempengan metal brankas yang meledak sehingga kakinya berdarah.
“apa yang terjadi?” Yazid meminta penjelasan.
Hikma pun menuturkan rangkaian kejadiannya, “tadi pas aku datang ke sini, ruang ini dah ancur berantakan, terus aku beresin, pas lagi beres-beres aku nemuin benda kaya metal gitu warna perak segede kelereng, trus aku masukin ke tabung, trus disimpen di brankas, gak lama kemudian tuh brankas meledak.”
“lihat!” Ali berseru saat ia melihat kaki Hikam berdarah. “cepat obati sebelum menjadi infeksi!” lanjutnya.
“Tidak!” Tomoko menyeruak dari belakang kerumunan orang-orang yang hanya mematung dan berdiskusi di “belakang layar” yang hanya memanaskan suhu ruangan. “bawa dia ke ruang radiologi!” tegasnya meminta Yazid dan Ali yang berada paling dekat dengan Hikma untuk mengantarkannya ke ruang Radiologi.
“kita harus mengeluarkan metalnya terlebih dahulu.” Jawab Ali.
“metal tak perlu kita hiraukan, yang perlu kita waspadai adalah yang menyebabkan brankas itu meledak, aku takut kalo benda itu berada dalam tubuhnya.” Balas Tomoko.
“apa kamu mau tanggung jawab kalau seandainya dia mengalami infeksi berat hingga harus amputasi?!” Ali mulai panas.
“kamu pikir kami membiarkan bakteri keluar masuk ruangan steril ini?” sanggah Tomoko sebagai ketua Lab merasa tersinggung.
Tiba-tiba Oryn datang dengan membawa peralatan P3K dan alat-alat yang dibutuhkan. Tanpa basa-basi ia membuka sepatu dan kaos kaki Hikma. Kemudian untuk menghentikan pendarahan, ia membelitkan perban di betis sebelah atasnya.
“kompreskan es!” perintah Oryn kepada Ali. Ia pun mengerjakan apa yang dipinta Oryn. Sementara Oryn sibuk berusaha mengeluarkan metal dari kaki Hikma, beberapa guru dari berbagai cabang ilmu pengetahuan eksakta mengambil sampel untuk diteliti kemudian.
“uuuh...aduuuh....” keluh Hikma menahan rasa sakit.
“tahan sedikit ya...sedikit lagi kok.” Pinta Oryn.
Ibu Eka, seorang guru dan pembina PMR yang juga seorang dokter segera membantu Oryn.
“oke, sudah keluar, bawa dia ke ruang UKS untuk perawatan.” Kata Bu Eka sambil menunjuk kepada anak-anak PMR.
“Tidak Bu, lebih baik kita bawa dulu ke Lab Radiologi, Ibu sudah beri dia antibiotik?” tanya Tomoko.
“oke, kita bawa dia ke sana, aku sudah beri dia antibiotik.” Jawab Bu Eka.
“lebih cepat akan lebih mengurangi resiko.” Tomoko.
Tandu telah datang, Hikma dibawa ke ruang Radilogi.
***
Ruangan sangat tertata rapi dan bersih. Inilah tempat kerja Oryn dalam meneliti berbagai macam hal yang berhubungan dengan radioaktivitas dan berbagai laju gelombang radio yang dihasilkan berbagai sumber radiasi.
“Mana Oryn?” tanya Tomoko.
“dia dipanggil kepala sekolah”. Jawab Yazid.
“lantas siapa yang akan menjalankan alat ini?” Tomoko kesal.
“alat apa yang kamu butuhkan?” tanya Ali datar.
“RAD” jawabnya singkat.
“oke, aku coba, setidaknya aku pernah belajar dari Erna tentang ini.” Jawab Ali. “antar dia kesini!” perintah Ali sambil menyalakan Radio Activity Detector (RAD).
“terdeteksi!” seru Ali dengan girang. “apa itu?” ia mengerenyitkan dahinya saat melihat benda aneh menyala di kaki Hikma dengan nyala yang cukup kuat.
“Plutonium.” Kata Tomoko.
“plutonium?!” seperti yang dikomando, semua serempak terkejut.
“ya, itu adalah plutonium yang meledak tadi, mungkin tadi tidak terangkat, segera kita lakukan pengangkatan.” Jawabnya.
“Yazid, bantu aku mempersiapkan alat yang dibutuhkan!”perintah Bu Eka kepada Yazid.
“baik Bu.” Ia pun bergegas menuju ruang UKS untuk mengambil perlengkapan yang diperlukan dibantu 2 asisten terbaiknya. Yazid, memang dia seorang anggota PMR terbaik di Jawa Barat yang dapat memecahkan 20 pertanyaan masalah tulang dan menjawab 15 case analysis yang berhubungan dengan kelainan sistem koordinasi syaraf pusat dalam waktu kurang dari 2 jam dengan tingkat kesalahan 10% dari seluruh materi. Dan semester depan ia menjadi kandidat terkuat untuk mewakili Indonesia dalam lomba PMR Internasional di Edogawa, Jepang.
Yazid telah datang diikuti dua asistennya, dengan membawa beberapa alat medis.
“oke, kita mulai.” Kata Bu Eka.
Pembedahan pun dimulai.
***
Erna telah tertidur selama 3 jam lebih. Ia belum juga sadarkan diri. Ali telah berada di sisinya sejak setelah selesai pembedahan kaki Hikma 2 jam yang lalu.
“Rabb, aku yakin pada-Mu, ini bukanlah terakhir kali aku menemuinya, melihatnya, meski jika Engkau memanggilnya untuk kembali bersama-Mu sekarang.” Do’a Ali dalam hati.
***
bersambung...
