PEMBELAJARAN BERBASIS TEKS PADA KURIKULUM 2013
Matakuliah Program Pembelajaran pertemuan kali ini secara khusus akan membahas pelaksanaan pembelajaran berbasis teks dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Simaklah video ini secara seksama agar Anda memiliki gambaran bagaimanakah pembelajaran Bahasa Indonesia sesuai Kurikulum 2013.
Pada materi sebelumnya telah disinggung perbandingan pembelajaran Bahasa Indonesia kurikulum 2006 dan 2013. Dalam penjelasan tersebut, dibahas bahwa kurikulum 2006 disusun dengan pandangan struktural linguistik sistemik fungsional. Sedangkan K13 sepenuhnya berbasis teks dengan struktur berpikir antara teks 1 dengan teks lainnya berbeda karena fungsi sosial yang diemban teks berbeda. Pandangan ini tidak dilepaskan dari link teori linguistik yang dijadikan sandaran. Secara lebih jelas akan dibahas berikut ini.
Pengembangan Kurikulum Bahasa Berdasarkan Teori Linguistik Tertentu
Sejak akhir tahun 1980-an, linguistik pemilik fungsional atau LSF telah banyak diterapkan sebagai landasan filosofis pembelajaran bahasa. LSF berlawanan dengan linguistik tradisional dan struktural yang memandang bahasa sebagai suatu sistem linguistik yang ditentukan dari penguasaan sejumlah kaidah atau tatabahasa. Tujuan belajar bahasa adalah kemampuan intelektual sebuah kalimat atau tuturan dianalisis berdasarkan kedudukannya sebagai subjek, predikat, objek, dan keterangan. Bentuk yang tidak sesuai dengan tata bahasa yang tidak lazim dianggap tidak gramatikal.
Oleh karena itu, mulai tahun 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP berpandangan belajar bahasa sebagai belajar komunikasi, bukan penguasaan tatabahasa tertentu. Hal ini disebabkan oleh bahasa sebagai alat komunikasi menuntut penguasaan cara berkomunikasi, bukan seperangkat kaidah. Banyak ditemukan siswa menguasai kaidah, tetapi kesulitan dalam mengemukakan gagasan. Akibatnya, pembelajaran bahasa perlu berbenah diri dari sebelumnya menggunakan struktural berganti pada fungsional. Hal itu sejalan dengan pandangan Halliday yang mengungkapkan pandangan linguistik sistemik fungsional atau LSF.
Linguistik Sistemik Fungsional dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Apa itu linguistik sistemik fungsional? Serta mengapa LSF digunakan sebagai dasar pengembangan kurikulum dan materi ajar bahasa? Linguistik sistemik fungsional adalah linguistik yang mendeskripsikan cara pemilihan bentuk-bentuk rheumatika pada konteks penggunaan bahasa sebagai teks. Pembelajaran bahasa meliputi belajar apa bahasa, belajar bagaimana bahasa, dan belajar melalui bahasa.
Belajar apa bahasa mengajarkan siswa tentang bahasa, definisi hingga sistem bahasa dipelajari. Siswa mempelajari pengertian dan contoh bunyi, imbuhan, kata, frasa, atau kalimat, paragraf, dan wacana. Sementara itu, belajar bagaimana bahasa mengajarkan siswa bagaimana cara menggunakan bahasa, bagaimana menggunakan bunyi, imbuhan, kata hingga wacana dapat dipahami siswa dalam berbahasa. Belajar melalui bahasa mengajarkan siswa bagaimana belajar sesuatu, belajar berbagai macam topik atau hal melalui media bahasa. Siswa dapat belajar berbagai disiplin ilmu melalui bahasa, proyek fisika, biologi, ekonomi, hingga religi dapat dipahami siswa melalui bahasa.
Pandangan Halliday sebagai dasar dalam pengembangan kurikulum. Pertama, mengajukan apa itu bahasa, bisa terkait konsepsi frasa. Sesuai dengan jenjang kelas SMA, diajarkan membedakan frasa endosentris dan frasa eksosentrik. Frasa endosentrik adalah frasa yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama keseluruhannya. Misal pada kalimat “Ibu sedang membaca novel di kamar”, frasa “sedang membaca” pada kalimat tersebut komponen keduanya yaitu “membaca” dapat menggantikan kedudukan frasa tersebut sehingga jadi “ibu membaca novel di kamar”. Berbeda halnya dengan frasa eksosentrik, adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya.