SEMAPUT DALAM DIRI #11

Matahari mulai menyembulkan percikan sinarnya. Tomoko masih terkantuk-kantuk, mungkin karena lelah yang menghinggapinya setelah bekerja keras untuk menyelesaikan kasus yang ternyata adalah sebuah teka-teki dari professor yang juga sebagai kepala sekolah.
Yazid mulai menyibukkan diri dengan olah raga ringan sebelum berangkat sekolah dengan berlari-lari kecil di halaman rumah. Ali sudah siap berangkat menuju Kota Hujan untuk mengikuti lomba pelantunan kalam ilahi yang dikenal dengan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an).
“tit” suara HP Erna berbunyi, tanda sebuah pesan masuk.
“hari ini temui ibu di lab. Radiologi. Penting.” Demikian pesan singkat dari Bu Rika Burdatul Syauqi, pembimbing Erna di laboratorium dan organisasi kerohanian.
“insya Alloh.” Balas Erna.
***
Sekolah telah ramai dengan perbincangan para siswa, mereka begitu antusias bercakap-cakap dengan temannya. Namun entah apa yang dibicarakan, mungkin karena terlalu gaduh.
Erna berjalan melewati beberapa siswa yang sedang asyik membicarakan hal yang tak jelas. Lalu kemudian Rudi memanggilnya.
“Erna!!!” teriak Rudi sambil berlari mendekati Erna. Erna hanya terus berjalan karena tidak menyadari Rudi memanggilnya.
“Erna” kata Rudi sambil menepuk bahu kiri Erna.
“ada apa?” Tanya Erna.
“kamu udah tahu kabar Pak Kepala?” tanyanya.
“belum, memang kenapa?”
“katanya beliau sakit parah. Hari ini OSIS bersama para guru akan berangkat menjenguk beliau” papar Rudi.
“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun… sakit apa memangnya?” Erna kaget.
“entahlah, yang jelas semua anggota OSIS disuruh kumpul sekarang.” Rudi menjelaskan.
“aduh, aku ada meeting dulu sama Bu Rika, gimana ya? Gimana kalo kalian meeting dulu, terus kalo aku udah selesai baru aku nyusul ke ruang OSIS, itu juga kalo belum selesai rapatnya.” Tawar Erna.
“okeh. Eh, emang ada meeting apa sih sama Bu Rika?” Rudi penasaran.
“entahlah, aku juga ga tahu.” Jawab Erna.
“ya udah, aku ke OSIS dulu, entar cepet datang ya kalo udah selese.” Kata Rudi sambil pergi meninggalkan Erna.
“insya Alloh.” Jawab Erna datar.
“assalamu’alaikum warohmatulloh…” Erna meminta izin masuk ruangan laboratorium.
“wa ‘alaikum salam warohmatulloh… masuk…” jawab yang di dalam.
Erna masuk ruangan dan kemudian mendekati Bu Rika.
“bagaimana Bu?” Tanya nya.
“begini Na, Ibu dapat kabar kemarin bahwa Pak Kepala teserang penyakit yang cukup parah, kamu udah tahu?”
“saya baru tahu barusan dari Rudi, memangnya pak kepala terkena penyakit apa kalo boleh tahu?”
“Beliau terserang penyakit TBC tulang.”
“innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun… lalu bagaimana perkembangannya sekarang?”
“hari ini beliau masuk rumah sakit untuk dikemoterapi, namun Bu Eka menyarankan untuk menunda dulu cara tersebut, dan beliau meminta kita untuk mengembangkan teknik pengobatan dengan laser yang ditembakkan pada beberapa titik untuk terapi pak kepala. Nah, sebagai pemegang tanggung jawab, Ibu mau mengajakmu juga teman-teman untuk meneliti dan mengembangkan teknik terapi itu sama-sama. Gimana? Kamu minat?” papar Bu Rika yang berujung dengan penawaran.
“insya Alloh, saya siap. Kapan kira-kira kita mulai programnya?” sambut Erna semangat.
“sekarang saja, semakin dini dimulai semakin banyak waktu yang dapat kita gunakan.”
“mmmm… Ibu, boleh kita mulai nanti siang saja?” Tanya Erna ragu.
“memang kenapa? Kamu ada agenda?” Tanya Bu Rika.
“sebenarnya iya, saya mau rapat dulu di OSIS, ini mengenai pak kepala juga…”
“oh, ya udah, silahkan saja. Nanti jika urusanmu sudah selesai, baru kita mulai. Kira-kira sampai jam berapa rapatnya?”
“mungkin sampai dhuhur, Bu.”
“oke. Sambil nunggu kamu rapat, biar ibu menyiapkan beberapa hal yang mungkin nanti diperlukan.”
“assalamu’alaikum…” Erna pamit keluar.
“wa ‘alaikum salaam…” jawab Bu Rika.
Erna keluar dari ruangan tersebut menuju OSIS dengan tergesa-gesa.
“assalamu’alaikum…” Erna izin masuk ruangan.
“waalaikumsalam” semua anggota menjawab.
“sudah sampai mana hasil rapatnya? Maaf tadi aku menemui Bu Rika dulu.” Erna meminta pemakluman rekannya.
“sudah selesai, kita semua sepakat untuk berangkat hari ini menjenguk pak kepala.” Jawab salah satu anggota menyeloroh.
“oh, udah selesai ya…” Erna kecewa.
“belun, Na.” ucap sang ketua OSIS. “kita baru aja ngumpul semua, baru dimulai kok.” Lanjutnya sambil senyum.
“hmmm.” Erna merasa dipermainkan. “ya udah, kita lanjut rapatnya.” Nadanya agak kesal.
“oke, mari kita mulai.” Sang pemimpin memulai rapat.
“Sebagaimana perkembangan berita yang beredar, hari ini pak kepala masih terbaring di rumah sakit, dan kita akan menjenguk beliau hari ini, tepatnya ba’da maghrib pas jam besuk. Bagaimana? Setuju?” lanjut ketua OSIS. Diikuti dengan anggukan seluruh peserta rapat.
“transportasi?” seorang anggota mengacungkan tangannya sambil bertanya.
“untuk alat transportasi ada dua opsi, pertama memakai kendaraan masing-masing bagi yang punya, adapun  yang belum punya kendaraan bisa ikut ke yang punya. Kedua, kita menyewa mobil, dan tentunya kita gunakan uang kas organisasi untuk pembayaran. Bagaimana?” jelas ketua.
“aku rasa mending opsi kedua aja deh, soalnya biar kita sama-sama, biar nggak pada nunggu. Kalo sendiri-seniri kan ntar gak berbarengan dating ke RS nya…” timpal seorang anggota perempuan.
“kalo aku sih cenderung ke opsi pertama, alasannya untuk iritisasi budget, hehe…kalo masalahnya cuma biar bareng, kita bisa berangkat bareng kok dari sini dan gak saling tinggalin satu sama lain.” Seorang anggota laki-laki menimpal.
“oke, kita perhitungkan untung rugi kedua opsinya.” Pungkas sang ketua.
“ah kelamaan, udah aja kamu yang mutusin Rud, kamu kan ketua, lagian aku ada agenda lagi sama Bu Rika biki penelitian.” Erna angkat bicara.
“tapi kan semuanya juga harus berdasar hasil musyawarah, Na. nggak bisa donk aku mutusin begitu aja. Kan ntar jadi otoriter.” Jawab Rudi.
“ya udah, sok atuh putusin mau gimana?” Erna mengembalikan ke forum.
“pak ketu, kalo menurut say amah biar yang mau pake pribadi pake pribadi, yang mau rombongan sewa mobil ya jalan, cuma bayaran sewanya pake uang pribadi. Maksudnya biar yang mau pake kendaraan pribadi gak terhalang, yang mau bareng pake mobil sewaan tetep berangkat. Cuma kita janjian aja di sananya jam berapa mesti nyampe. Yang pake kendaraan pribadi kalo bisa lebih awal, jadi bisa nyari info posisi kamar pak kepala. Gimana?” Riska mengajukan usulannya.
“nah, cakep tuh usulnya, aku lebih setuju gitu.” Timpal seorang anggota laki-laki.
“yang lainnya gimana?” Tanya ketua.
“ya udah, gitu aja, paling sekarang mah siapa yang mau naek kendaraan pribadi, siapa yang mau naek kendaraan sewaan?” pungkas seorang anggota.
“sok atuh di data, Ceu Sekre, coba didata ya…” perintah Rudi ke sekretarisnya.
“siap komandan!” Sekretaris. “Sok sini daftarin diri yang mau ngikut nyewa…” lanjutnya.
Segera seluruh anggota perempuan mendaftarkan  diri ikut di mobil kecuali Erna.
“Na, kamu gakk ikut kita-kita?” Tanya Riska.
“aku mah ntar nyusul sama Bu Rika, kebetulan hari ini aku sama Bu Rika mau ada penelitian dulu, jadi takutnya ngehambat kalian, tapi kalo seandainya keburu, ntar aku ikut kalian juga kok.” Erna member penjelasan.
“maksudnya biar kursinya bisa dihitung, Na.” tukas Riska.
“gini aja, aku mah diitung ikut kalian aja dulu, ntar aku konfirmasi ke kalian jadi ikut bareng atau nggaknya kalo aku udah tau kepastian bisa nggaknya. Aku tetep bayar kok” jawab Erna sambil senyum-senyum.
“hmmm… ya udah kalo gitu.” Jawabnya. “eh Ceu Sekre, Erna cenah ikut ke kita-kita.”
“okeh, udah selese ya…sekarang kita tinggal menyepakati kapan mau kumpul buat berangkat. Maksudnya bagi yang mau pake kendaraan sewaan.” Ketua angkat bicara.
“pokoknya jam 5 udah harus berangkat, titik. Jam pulang kantor suka macet. Jadi biar nyampenya magrib jam 5 kudu udah berangkat dari sini.
***
bersambung...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel