SEMAPUT DALAM DIRI #5
Saturday, August 18, 2018
22.30. Malam telah jauh larut dalam buaian langit yang berhiaskan pesona bintang dan bulan. Malam yang cukup cerah. Konstelasinya selalu sempurna, karena Desainernya Maha Sempurna. Jika ditarik garis, bentuk berbagai segitiga nampak jelas dan beberapa konsonan N, M, I atau bentuk lainnya. Yazid masih duduk di atas balkon lantai dua di depan padang rumput yang luas. Suara derik jangkrik menjadi melodi tersendiri saat musik instrument Kenny G mendayu-dayu dengan tenang dan pelan terdengar sayup-sayup diantara desiran angin malam.
Sepuluh kilometer dari rumah Yazid, Ali masih duduk di atas sajadah bercucur air mata memanjatkan do’a dengan tak henti-hentinya untuk seseorang yang begitu ia kagumi, sosok yang mampu menuntunnya untuk berbuat lebih baik dari pandangan syariat, yang tak pernah lepas akan al-qur’an sebelum pelajaran dimulai, yang dapat menjadi imam dalam hal pengetahuan agama, sosok yang mungkin tak dimiliki oleh siapapun saat ini, sosok cerdas nan lemah lembut namun tegas. Erna Vismia Nurmalasari. Gadis manis asal Cimahi yang sekarang terkulai lemah di rumah sakit, dan besok akan dirujuk ke RSCU Jakarta.
Di tempat lain Tomoko sibuk dengan berbagai alat eksperimennya untuk mengolah data penyebab ledakan. Keringat mulai bercucuran di wajahnya. Kamarnya ia sulap menjadi laboratorium pribadi dengan alat-alat yang bisa dibilang lebih dari lengkap, tentunya dengan dana yang tidak sedikit, dan itu semua merupakan fasilitas dari beasiswa yang ia dapatkan dari negara asalnya, Jepang. 12 hasil analisis dan 11 hipotesis dengan 9 hasil silang data mengalami kegagalan. Terus mencoba dan menganalisa semua kemungkinan dengan data yang ia dapatkan dengan bantuan gurunya meski melalui teleconference. Kini ia sedang melakukan analisa yang ke 21 untuk menghasilkan sintesis yang ke-20. Penelitian telah berlangsung selama 5 ½ jam dan hanya menghasilkan hipotesis dan sintesis yang ia patahkan sendiri. Penelitian pun berakhir tepat pada pukul 02.30. Ia mulai merasa lelah dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Tepat pada saat Tomoko beristirahat, alarm milik Ali berbunyi pertanda ia harus bangun dan mengambil air wudlu. Ia pun bangun dan segera mengambil handuk kemudian mandi sebelum ia melaksanakan shalat tahajud. Selepas tahajud ia mengambil al-qur’an, membuka kemudian membacanya pelan, merdu dan sangat menyentuh karena memang ia melantunkannya dengan lagu syikka yang lirih dan bernada syahdu, sedih sangat menyentuh hati bahkan ia sendiri menangis. Ali adalah seorang yang berbakat dalam bidang qiro’at, seorang juara MTQ tingkat provinsi dan pada Agustus mendatang ia akan bertanding di tingkat nasional di Bogor.
Shubuh telah berkumandang, Ali menutup mushaf yang ia baca dan segera bersiap pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah. Pada saat itu Yazid baru terbangun dari tidurnya dan segera pergi mengambil air wudlu. Erna masih terbaring di ruangan putih dengan tenang, tak ada ekspresi.
“De Hikma, udah shubuh! Bangun!” seru ibunya di depan pintu kamarnya.
“iya Bu.” Jawab Hikma dari dalam dengan suara yang terdengar masih sangat berat karena masih digelayuti rasa kantuk.
Ia turun dari kasur, tepat ketika ia menginjakkan kaki kanannya, ia terjatuh karena tak dapat menahan rasa sakit yang timbul saat bagian tesebut mendapat tekanan berat badan.
“aaaah,,,sakit banget nih kaki. Kapan sembuhnya ya?” sambil memijit-mijit bagian atas luka yang masih berbalut perban akibat ledakan waktu itu.
06.30. Mentari mulai menampakkan cahayanya yang masih mengantuk kemerah-merahan di ufuk timur. Langit yang hitam kelam telah berganti dengan warna biru muda. Hari cerah. Bandung kembali beraktifitas seperti biasa, jalan-jalan mulai padat kembali, ramai orang berlalu lalang kesana kemari. Pasar kembali riuh dipenuhi orang-orang yang bertransaksi, para pelajar dan karyawan telah memadati angkutan umum.
Gerbang SMK Hayati tampak kokoh dengan aksen minimalis sedikit dihiasi dengan gaya gothic pada gapuranya. Dengan menggunakan penyangga, Hikma memaksakan diri untuk masuk kelas hari ini, ia tidak mau ketinggalan pelajaran hanya karena sakit kaki yang ia rasakan. “sakit kaki bukanlah alasanku untuk tidak masuk kelas” pikirnya.
“assalamu’alaikum, gimana kabarnya? udah baikan nih?” sapa Oryn pada Hikma saat bertemu dapan kelas.
“wa’alikumsalam, alhamdulillah udah, nih buktinya udah berangkat sekolah lagi, meskipun si mamah ngelarang aku sekolah,” jawab Hikma.
“bener nih? Kalo belum kuat mah mending jangan maksain deh, entar yang repot aku juga lagi, kudu nganterin kamu pulang kalo terjadi sesuatu.” Timpal Yazid bercanda.
“wew, siapa pula yang pengen dianter ma dokter galak macem dirimu.” Balas Hikma.
“wah,,,biarpun sakit, masih bisa diajak perang.” Ali ikut nimbrung.
“waah,,nambah lagi nih enemy nya” timpal Hikma.
Semua begitu bahagia dengan datangnya Hikma ke sekolah, pertanda tak ada yang perlu dikhawatirkan darinya.
“kapan engkau kembali bersekolah ukhti?” Ali membatin karena Erna tak kunjung pulih kembali semenjak dibawa ke Rumah Sakit.
***
bersambung...
