SEMAPUT DALAM DIRI #6
Saturday, August 18, 2018
09.30 WIB.
Pagi memang masih terasa sejuk, namun suasana di ruang guru terasa agak terpanaskan oleh sebuah forum diskusi hasil penelitian para siswa Bioteknologi IA yang ditugaskan untuk menyelesaikan kasus meledaknya Pu yang menyebabkan jatuhnya satu korban. Diskusi tersebut dihadiri juga oleh para guru pembimbing, Kepsek dan Waka Kesiswaan.
“aku tidak setuju bila demikian!” bentak Tomoko.
“bagaimana mungkin Anda tidak menyetujui hal itu? Bukankah Anda seorang ketua laboratorium? Seharusnya Anda lebih bertanggung jawab.” Timpal Rudi dengan sedikit meledek. Rudi, ketua II Lab. Bioteknologi IA yang sekaligus sebagai pesaing Tomoko pada saat pemilihan ketua Lab tahun ini. Ia sangat kesal dengan kemenangan Tomoko dalam seleksi calon ketua Laboratorium Bioteknologi IA. Sehingga kesempatan ini ia gunakan untuk mendongkrak reputasinya di depan para pembimbing dan pejabat sekolah.
“Anda bilang Pu itu bisa meledak karena ada peningkatan aktivitas yang disebabkan laju reaksi setengah paruh yang meningkat? Itu hal yang mustahil terjadi kecuali ada alasan lain sehingga memperpendek paruh waktunya. Apakah Anda punya bukti bahwa Pu tersebut telah berubah sehingga tidak stabil lagi?” Kata Tomoko.
“mungkin Anda akan terkejut setelah melihat hasil riset ini.” Kata Rudi sambil menunjukkan sebuah lempengan cakram kecil. “mari kita lihat bersama”. Lanjutnya.
Segera seeseorang menyiapkan layar dan proyektor untuk melihat apa yang Rudi bawa.
“hong...bohong...” kata Tomoko lirih sambil menunduk dan menyucurkan air mata. “itu mustahil...tak mungkin itu terjadi...5 ½ jam aku meneliti ulang, tak ku temukan kemungkinan terjadi hal yang demikian...” lanjutnya masih dengan tangisnya.
“Anda telah lihat sendiri hasil riset kami barusan, sejauh mana Anda dapat menganalisis? boleh saya lihat analisa Anda nona?” Rudi semakin mengolok-olok Tomoko.
“jangan pikir penelitian saya akan berakhir di sini tuan Rudi, ini masih berlanjut.” Potong Tomoko dengan air mata di pelupuk matanya.
“benarkah demikian? Benarkah apa yang telah aku saksikan tadi? Bila itu memang benar, maka inilah saatnya aku berangkat kembali ke Jepang.” Bisik hatinya.
Pergolakan dalam diri Tomoko semakin kuat, ia masih tetap tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.
“baiklah, aku butuh waktu 10 hari untuk penelitian lebih lanjut.” Tomoko.
“apa tak terlalu pendek 10 hari?” jawab Rudi mengejek.
“oke, 3 hari.” Tomoko langsung pergi dengan tergesa-gesa.
“hei! Lain kali nelitinya pake panduan buku ya…!!!” ejek Rudi sambil berteriak dan berlalu terkekeh-kekeh.
Tomoko berjalan cepat disertai kemarahan, bukan pada Rudi, bukan pada siapapun, namun ia jengkel dengan penelitiannya semalam suntuk yang hanya menghasilkan sebuah kesimpulan yang mempermalukannya di depan para pembimbing laboran.
Melihat Tomoko berjalan tergesa-gesa, Yazid menghampirinya.
“hei!” seru Yazid, sebelum Tomoko lebih jauh pergi dan tak terkejar. Tomoko berhenti dan menoleh lalu perlahan memutar badannya setelah melihat Yazid berlari ke arahnya.
“ada apa?” Tanya Tomoko.
“um,,,um,,,” Yazid bingung untuk mengutarakan pertanyaan, takut dia tersinggung.
“kok cuma “um…um…”?” Tomoko polos.
“anu,,,um,,,penelitiannya,,,” Yazid ragu.
“oh,,,mudah-mudahan bisa beres sebelum aku lulus…” Tomoko datar.
“anu…b...b…boleh aku bantu?” Tanya Yazid sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“hah??? Mau bantu??” Tomoko heran.
“i..iya…hehe” Yazid.
“kenapa kamu jadi gugup gitu sih? Gak biasanya…” timpal Tomoko.
“mmmm….gak apa-apa,,,hanya tadi sedikit ragu aja buat nawarin bantuan,,,heuheu”.
“hmmm…boleh kok…asal jangan banyak tanya aja waktu penelitian berlangsung. Kedua, gak boleh ngajak diskusi ketika penelitian. Ketiga, gak boleh banyak interfensi. Keempat, kalau hasil penelitian kita berbeda, siap melakukan cross check meski yakin kebenarannya. Kelima, bersedia datang ke rumahku. Keenam, HP mesti mati selama penelitian. Ketujuh, tidak melakukan hal-hal yang gila. Kedelapan, gak boleh bawa orang lain selain yang aku izinin. Kesembilan, tidak ada izin keluar ruangan sebelum selesai. Kesepuluh, bawa makanan ya. Setuju?” Tomoko menjelaskan peraturan dengan lancar dan diakhiri dengan senyum manis khas Jepangnya.
“hah? Kok banyak banget peraturannya ya? Aku gak nyangka sebanyak itu peraturannya. Tapi aku setuju aja.” Yazid siap.
Setelah itu, keduanya berlalu. Jam pulang ternyata agak lebih awal mengingat para guru akan rapat untuk mencari penyelesaian kasus ledakan Pu di Lab. Bioteknologi IA. Sesampainya di rumah, Yazid langsung menyambar buku yang mungkin diperlukan untuk membantu Tomoko.
“tit” hp Yazid berbunyi pertanda ada pesan masuk. “ku tunggu di rumah jam 8 malam ini.” Isi pesan dari Tomoko.
“hmmmm…” gumam Yazid.
***
bersambung...
Pagi memang masih terasa sejuk, namun suasana di ruang guru terasa agak terpanaskan oleh sebuah forum diskusi hasil penelitian para siswa Bioteknologi IA yang ditugaskan untuk menyelesaikan kasus meledaknya Pu yang menyebabkan jatuhnya satu korban. Diskusi tersebut dihadiri juga oleh para guru pembimbing, Kepsek dan Waka Kesiswaan.
“aku tidak setuju bila demikian!” bentak Tomoko.
“bagaimana mungkin Anda tidak menyetujui hal itu? Bukankah Anda seorang ketua laboratorium? Seharusnya Anda lebih bertanggung jawab.” Timpal Rudi dengan sedikit meledek. Rudi, ketua II Lab. Bioteknologi IA yang sekaligus sebagai pesaing Tomoko pada saat pemilihan ketua Lab tahun ini. Ia sangat kesal dengan kemenangan Tomoko dalam seleksi calon ketua Laboratorium Bioteknologi IA. Sehingga kesempatan ini ia gunakan untuk mendongkrak reputasinya di depan para pembimbing dan pejabat sekolah.
“Anda bilang Pu itu bisa meledak karena ada peningkatan aktivitas yang disebabkan laju reaksi setengah paruh yang meningkat? Itu hal yang mustahil terjadi kecuali ada alasan lain sehingga memperpendek paruh waktunya. Apakah Anda punya bukti bahwa Pu tersebut telah berubah sehingga tidak stabil lagi?” Kata Tomoko.
“mungkin Anda akan terkejut setelah melihat hasil riset ini.” Kata Rudi sambil menunjukkan sebuah lempengan cakram kecil. “mari kita lihat bersama”. Lanjutnya.
Segera seeseorang menyiapkan layar dan proyektor untuk melihat apa yang Rudi bawa.
“hong...bohong...” kata Tomoko lirih sambil menunduk dan menyucurkan air mata. “itu mustahil...tak mungkin itu terjadi...5 ½ jam aku meneliti ulang, tak ku temukan kemungkinan terjadi hal yang demikian...” lanjutnya masih dengan tangisnya.
“Anda telah lihat sendiri hasil riset kami barusan, sejauh mana Anda dapat menganalisis? boleh saya lihat analisa Anda nona?” Rudi semakin mengolok-olok Tomoko.
“jangan pikir penelitian saya akan berakhir di sini tuan Rudi, ini masih berlanjut.” Potong Tomoko dengan air mata di pelupuk matanya.
“benarkah demikian? Benarkah apa yang telah aku saksikan tadi? Bila itu memang benar, maka inilah saatnya aku berangkat kembali ke Jepang.” Bisik hatinya.
Pergolakan dalam diri Tomoko semakin kuat, ia masih tetap tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.
“baiklah, aku butuh waktu 10 hari untuk penelitian lebih lanjut.” Tomoko.
“apa tak terlalu pendek 10 hari?” jawab Rudi mengejek.
“oke, 3 hari.” Tomoko langsung pergi dengan tergesa-gesa.
“hei! Lain kali nelitinya pake panduan buku ya…!!!” ejek Rudi sambil berteriak dan berlalu terkekeh-kekeh.
Tomoko berjalan cepat disertai kemarahan, bukan pada Rudi, bukan pada siapapun, namun ia jengkel dengan penelitiannya semalam suntuk yang hanya menghasilkan sebuah kesimpulan yang mempermalukannya di depan para pembimbing laboran.
Melihat Tomoko berjalan tergesa-gesa, Yazid menghampirinya.
“hei!” seru Yazid, sebelum Tomoko lebih jauh pergi dan tak terkejar. Tomoko berhenti dan menoleh lalu perlahan memutar badannya setelah melihat Yazid berlari ke arahnya.
“ada apa?” Tanya Tomoko.
“um,,,um,,,” Yazid bingung untuk mengutarakan pertanyaan, takut dia tersinggung.
“kok cuma “um…um…”?” Tomoko polos.
“anu,,,um,,,penelitiannya,,,” Yazid ragu.
“oh,,,mudah-mudahan bisa beres sebelum aku lulus…” Tomoko datar.
“anu…b...b…boleh aku bantu?” Tanya Yazid sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“hah??? Mau bantu??” Tomoko heran.
“i..iya…hehe” Yazid.
“kenapa kamu jadi gugup gitu sih? Gak biasanya…” timpal Tomoko.
“mmmm….gak apa-apa,,,hanya tadi sedikit ragu aja buat nawarin bantuan,,,heuheu”.
“hmmm…boleh kok…asal jangan banyak tanya aja waktu penelitian berlangsung. Kedua, gak boleh ngajak diskusi ketika penelitian. Ketiga, gak boleh banyak interfensi. Keempat, kalau hasil penelitian kita berbeda, siap melakukan cross check meski yakin kebenarannya. Kelima, bersedia datang ke rumahku. Keenam, HP mesti mati selama penelitian. Ketujuh, tidak melakukan hal-hal yang gila. Kedelapan, gak boleh bawa orang lain selain yang aku izinin. Kesembilan, tidak ada izin keluar ruangan sebelum selesai. Kesepuluh, bawa makanan ya. Setuju?” Tomoko menjelaskan peraturan dengan lancar dan diakhiri dengan senyum manis khas Jepangnya.
“hah? Kok banyak banget peraturannya ya? Aku gak nyangka sebanyak itu peraturannya. Tapi aku setuju aja.” Yazid siap.
Setelah itu, keduanya berlalu. Jam pulang ternyata agak lebih awal mengingat para guru akan rapat untuk mencari penyelesaian kasus ledakan Pu di Lab. Bioteknologi IA. Sesampainya di rumah, Yazid langsung menyambar buku yang mungkin diperlukan untuk membantu Tomoko.
“tit” hp Yazid berbunyi pertanda ada pesan masuk. “ku tunggu di rumah jam 8 malam ini.” Isi pesan dari Tomoko.
“hmmmm…” gumam Yazid.
***
bersambung...
