SEMAPUT DALAM DIRI #7
Saturday, August 18, 2018
“tok,,,tok,,,tok,,,” Yazid mengetuk pintu.
“masuk…” mempersilahkan.
“kamu di sini sendiri?” tanya Yazid sambil lirik sana-sini, takjub dengan megahnya ruangan.
“iya, emang kenapa?” Tomoko balik tanya.
“hebat! kamu bisa ngurus semua ini, padahal rumahnya gede banget…” Yazid terkagum-kagum.
“yang namanya cewe itu mesti bisa ngurus rumah, Pak!” timpal Tomoko datar.
“hmmm….” Yazid sambil mengangguk pertanda setuju. “dimana ruangannya?” tanyanya.
“ikuti saja aku, ntar juga nyampe…” Tomoko datar.
Mereka naik tangga menuju lantai dua yang lebih tertutup. Mungkin ini kamar pribadi Tomoko yang disediakan oleh pemerintahannya sebagai bagian dari fasilitas beasiswa.
“mulai dari sini kita tak diperkenankan untuk berbicara kecuali penting. Oke?!” kata Tomoko.
“okeh!” jawab Yazid sambil nyengir.
Pintu kamar dibuka dan nampaklah berbagai peralatan penelitian di ruang tersebut.
“busyet! Kumplit banget! Berantakan pula!” seru Yazid kaget.
Wajah Tomoko tetap datar, mungkin dia sudah memprediksi ekspresi seperti apa yang akan ditampilkan Yazid saat melihat ruang tersebut.
“menurutmu ini berantakan?” tanya Tomoko sambil tersenyum, seakan-akan ada sesuatu yang tersembunyi dalam senyum manisnya itu.
“untuk ukuran cewek ini berantakan banget!” jawab Yazid.
“nah, kalo begitu kamu beresin yaa….” Tomoko sambil tertawa kecil.
“eh, enak aja….!” Timpal Yazid.
“masih ingat peraturan yang aku ajuin sebelumnya kan?” ancam Tomoko.
“hmmmm…pantes aja…” Yazid mengeluh dan langsung merapihkan peralatan penelitian.
Sedangkan Tomoko masuk ke kamarnya.
Setengah jam telah Yazid lalui dengan membereskan peralatan laboratorium milik Tomoko. Dengan gontai ia menuju kursi setelah menyimpan tabung erlenmeyer terakhir kemudian menjatuhkan dirinya di sofa dekat lab.
Begitu Yazid jatuh, pintu ada yang mengetuk dan kemudian terdengar salam dari seorang perempuan yang ia kenal betul suaranya.
“assalamu’alaikum…” Oryn.
“Zid, tolong buka ya, siapa yang datang?!” teriak Tomoko dari dalam kamar.
“jadi ceritanya aku bener-bener jadi pembantu kamu, gitu?!” Yazid agak manyun.
“hehehe…ya enggak lah. Kan aku masih ganti baju…” Tomoko menghibur.
“hmmmm….” Yazid melenguh dengan muka manyun.
“lha! Kok kamu di sini?! Ngapain?! Nah lho…jangan-jangan….” Oryn
“jangan-jangan kamu ngintip yaa?!” canda Yazid dengan menampilkan muka menyelidiki.
“naaahh lhooo…ketahuan…aku laporin ke Pa Kepala Sekolah yaa…” ancam Oryn canda. “jadi aku boleh masuk gak nih?! Kok didiemin depan pintu sih?! Awas, aku mau masuk!!” lanjutnya.
“eh maaf, silahkan nona muda…” Yazid membungkuk dan mempersilahkan Oryn masuk layaknya pelayanan kepada seorang putri raja.
“ikh…gaje banget si Yazid…” Oryn.
Oryn masuk ke ruangan dan melihat-lihat peralatan penelitian Tomoko.
“wow! Keeerrreeeennn!!!” Oryn terkagum-kagum melihat peralatan yang ada di ruang laboraturium dadakan Tomoko.
“biasa ajjaaa kaleeee…” Yazid menimpal diikuti tawanya.
“berisik ih, ni anak. Nimbruung ajaaahh…” Oryn.
“Ziiid, besok kamu minta daftar hadir semua siswa dari tiap kelas pada hari ledakan terjadi ya!” Tomoko berteriak dari dalam kamarnya.
“buat apa?!” Yazid balik teriak.
“buat diselidiki lah…. gimana sih… agak lola juga ya ternyata sang jenius teh…” canda Oryn.
“beuh… itu menandakan kalo aku lagi berfikir keras dan telah ku temukan beribu kemungkinan jawaban, jadi sebagai klarifikasi, aku tanyain langsung sama yang bersangkutan…” timpal Yazid.
“jangan lupa ya!!!” teriak Tomoko.
“iyaaa…!!!” teriak Yazid.
Akhirnya penelitian pun dimuai.
***
bersambung...
“masuk…” mempersilahkan.
“kamu di sini sendiri?” tanya Yazid sambil lirik sana-sini, takjub dengan megahnya ruangan.
“iya, emang kenapa?” Tomoko balik tanya.
“hebat! kamu bisa ngurus semua ini, padahal rumahnya gede banget…” Yazid terkagum-kagum.
“yang namanya cewe itu mesti bisa ngurus rumah, Pak!” timpal Tomoko datar.
“hmmm….” Yazid sambil mengangguk pertanda setuju. “dimana ruangannya?” tanyanya.
“ikuti saja aku, ntar juga nyampe…” Tomoko datar.
Mereka naik tangga menuju lantai dua yang lebih tertutup. Mungkin ini kamar pribadi Tomoko yang disediakan oleh pemerintahannya sebagai bagian dari fasilitas beasiswa.
“mulai dari sini kita tak diperkenankan untuk berbicara kecuali penting. Oke?!” kata Tomoko.
“okeh!” jawab Yazid sambil nyengir.
Pintu kamar dibuka dan nampaklah berbagai peralatan penelitian di ruang tersebut.
“busyet! Kumplit banget! Berantakan pula!” seru Yazid kaget.
Wajah Tomoko tetap datar, mungkin dia sudah memprediksi ekspresi seperti apa yang akan ditampilkan Yazid saat melihat ruang tersebut.
“menurutmu ini berantakan?” tanya Tomoko sambil tersenyum, seakan-akan ada sesuatu yang tersembunyi dalam senyum manisnya itu.
“untuk ukuran cewek ini berantakan banget!” jawab Yazid.
“nah, kalo begitu kamu beresin yaa….” Tomoko sambil tertawa kecil.
“eh, enak aja….!” Timpal Yazid.
“masih ingat peraturan yang aku ajuin sebelumnya kan?” ancam Tomoko.
“hmmmm…pantes aja…” Yazid mengeluh dan langsung merapihkan peralatan penelitian.
Sedangkan Tomoko masuk ke kamarnya.
Setengah jam telah Yazid lalui dengan membereskan peralatan laboratorium milik Tomoko. Dengan gontai ia menuju kursi setelah menyimpan tabung erlenmeyer terakhir kemudian menjatuhkan dirinya di sofa dekat lab.
Begitu Yazid jatuh, pintu ada yang mengetuk dan kemudian terdengar salam dari seorang perempuan yang ia kenal betul suaranya.
“assalamu’alaikum…” Oryn.
“Zid, tolong buka ya, siapa yang datang?!” teriak Tomoko dari dalam kamar.
“jadi ceritanya aku bener-bener jadi pembantu kamu, gitu?!” Yazid agak manyun.
“hehehe…ya enggak lah. Kan aku masih ganti baju…” Tomoko menghibur.
“hmmmm….” Yazid melenguh dengan muka manyun.
“lha! Kok kamu di sini?! Ngapain?! Nah lho…jangan-jangan….” Oryn
“jangan-jangan kamu ngintip yaa?!” canda Yazid dengan menampilkan muka menyelidiki.
“naaahh lhooo…ketahuan…aku laporin ke Pa Kepala Sekolah yaa…” ancam Oryn canda. “jadi aku boleh masuk gak nih?! Kok didiemin depan pintu sih?! Awas, aku mau masuk!!” lanjutnya.
“eh maaf, silahkan nona muda…” Yazid membungkuk dan mempersilahkan Oryn masuk layaknya pelayanan kepada seorang putri raja.
“ikh…gaje banget si Yazid…” Oryn.
Oryn masuk ke ruangan dan melihat-lihat peralatan penelitian Tomoko.
“wow! Keeerrreeeennn!!!” Oryn terkagum-kagum melihat peralatan yang ada di ruang laboraturium dadakan Tomoko.
“biasa ajjaaa kaleeee…” Yazid menimpal diikuti tawanya.
“berisik ih, ni anak. Nimbruung ajaaahh…” Oryn.
“Ziiid, besok kamu minta daftar hadir semua siswa dari tiap kelas pada hari ledakan terjadi ya!” Tomoko berteriak dari dalam kamarnya.
“buat apa?!” Yazid balik teriak.
“buat diselidiki lah…. gimana sih… agak lola juga ya ternyata sang jenius teh…” canda Oryn.
“beuh… itu menandakan kalo aku lagi berfikir keras dan telah ku temukan beribu kemungkinan jawaban, jadi sebagai klarifikasi, aku tanyain langsung sama yang bersangkutan…” timpal Yazid.
“jangan lupa ya!!!” teriak Tomoko.
“iyaaa…!!!” teriak Yazid.
Akhirnya penelitian pun dimuai.
***
bersambung...
